Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Sacca)

0
49
views

1. Adanya penderitaan (Dukkha).
Kelahiran adalah penderitaan. Menjadi tua adalah penderitaan. Penyakit adalah penderitaan. Kematian adalah penderitaan. Kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan, ketidaksenangan, keputusasaan adalah penderitaan. Tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan. Dengan kata lain lima kelompok kehidupan (panca khanda) yang dipengaruhi kemelekatan adalah penderitaan (dukkha).

Manusia banyak yang tidak menyadari bahwa ada kebebasan dari semua bentuk penderitaan yang dapat dicapai ketika masih hidup. Mereka kebanyakan melekat pada kesenangan nafsu indra, menghancurkan kehidupan makhluk lain, menganut pandangan salah yang menyesatkan banyak orang, menjanjikan kebahagiaan semu dan sementara, hidupnya tidak diarahkan dengan baik, tidak membuka diri untuk belajar lebih dalam tentang kebeneran universal, menjadi orang bodoh yang tidak mampu membedakan kebaikan dan kejahatan. Inilah sebab penderitaan yaitu nafsu tiada henti (tanha), dan kegelapan batin (avijja) yang menjadi sebab kelahiran berulang-ulang penderitaan bagi dirinya.

2. Penyebab penderitaan.
2.1. Nafsu keinginan panca indera (kama tanha).
Pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman, perasa. Kita merindukan penglihatan yang menyenangkan, suara yang merdu, bau-bauan yang wangi, rasa yang enak, sentuhan yang halus dan pemikiran yang menyenangkan. Kapanpun dan di manapun pemikiran atau sensasi fisik yang menyenangkan timbul, maka kita berusaha mencarinya dan melekatkan diri kita kepadanya, seperti melekat pada makanan yang kita makan, kesenangan nafsu, kenyamanan, kekayaan, teman-teman dekat dan orang yang dicintai dan juga berbagai macam bentuk hiburan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, perasaan fisik dan mental yang menyenangkan pada saat itu menjadi sebab dari penderitaan ketika mereka tenggelam. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, itu juga penderitaan. Ketika kita menderita, rasa keengganan muncul, jika kita menyalahkan orang lain, maka rasa keengganan itu tumbuh berkembang menjadi dendam dan benci. Oleh karena itulah kebencian dan konflik pun muncul. Dengan kemunculan kebencian dan konflik, maka penderitaan kita pun menjadi berlipat ganda.
2.2. Keinginan menjadi sesuatu (bhava tanha).
2.3. Keinginan menyingkirkan / tidak menjadi (vibhavaa tanha).

3. Lenyapnya penderitaan.
Berhentinya penderitaan adalah pemudaran, penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan nafsu keinginan. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibanna) telah dialami.

4. Jalan menuju lenyapnya penderitaan (beruas delapan).
Untuk dapat mencapai kebahagiaan sejati, Buddha mengajarkan suatu cara yang dapat dilakukan setiap orang. Cara tersebut dinamakan Jalan Mulia Berunsur Depalan. Ketika cara pandang seseorang serta tindakannya sesuai, pasti kebahagiaan sejati akan dialaminya.
Kebijaksanaan
4.1. Pandangan benar.
4.2. Pikiran atau niat benar.
Kemoralan
4.3. Ucapan yang benar.
4.4. Perbuatan benar.
4.5. Penghidupan benar.
Konsentrasi
4.6. Usaha benar atau mata pencahariaan .
4.7. Konsentrasi benar.
4.8. Kesadaran benar.

Menurut ku, ada beberapa makna yang bisa diambil:
1. Menyadari dan menemukan adanya masalah.
2. Memahami dan menganalisa masalah tersebut.
3. Mengetahui bahwa masalah tersebut dapat diatasi dan mencari cara penyelesaiannya.
4. Menemukan cara dan menjalankan untuk mengatasi masalah tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!